Showing posts with label 4. Kasus Anak. Show all posts
Showing posts with label 4. Kasus Anak. Show all posts

Jun 14, 2012

Ernawati: Mengamen di Jalanan Demi Keluarga


Namanya Ernawati, usianya 10 tahun. Sekarang dia duduk di kelas 3 sekolah dasar. Ketika berusia 6 bulan, dia pernah terkena sakit diare dan muntah-muntah serta hampir meninggal dunia. Ibunya mendapatkan saran dari orang-orang dekatnya untuk mengubah nama Erna, sehingga kesehatan Erna akan membaik.  Sejak saat itu, Erna dipanggil dengan sebutan “Kuntring”.

Ernawati
Ayah Erna sudah meninggal, kini ia tinggal bersama ibu, adik dan kakeknya di sebuah rumah kecil dan sederhana yang terbuat dari kayu. Setiap hari, Erna mengikuti kursus pelajaran sekolah dari jam 8 sampai jam 10 pagi. Setelah itu, Erna pulang ke rumah untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Erna kemudian berangkat sekolah mulai jam 12 siang sampai jam 16.30.

Di pagi hari, Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Dari pekerjaan ini, ibunya mendapatkan penghasilan antara Rp 15.000 sampai dengan Rp 30.000 per satu kali mencuci pakaian. Tapi, ibunya tidak mencuci setiap hari, hanya 2 atau 3 kali seminggu saja, dan ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Akibatnya, Erna harus membantu Ibunya untuk mendapatkan uang. Setiap hari sepulang sekolah, sekitar jam 17.00 atau 17.30 sore, Erna diajak ibunya mengamen di jalanan. Mereka baru pulang pada jam 11 malam! Dari pekerjaan ini, mereka mendapatkan antara  Rp 25.000 sampai dengan Rp 60.000. Ibunya pertama kali mengajak Erna mengamen di jalanan sejak Erna berumur 4 tahun, dan mereka masih melakukannya sampai sekarang.


Ernawati beserta ibu dan adiknya

Suasana rumah Ernawati dan keluarga

Ibunya berkata bahwa jika dia tidak mengajak Erna, orang-orang tidak akan bersimpati padanya dan dia tidak akan mendapatkan uang sama sekali, tetapi jika Erna ikut dengannya, bahkan saat mereka sedang beristirahat dan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, banyak orang yang memberi mereka uang atau makanan.

Ernawati baru menjadi anak dukungan Gugah Nurani Indonesia sejak satu tahun terakhir. Tidak banyak aktivitas yang dia ikuti di GNI, karena waktunya sudah penuh dengan kegiatan, selain itu, rumahnya juga jauh dari Pusat Hak Anak GNI dan tidak ada teman yang bisa menemaninya untuk pergi ke GNI.

Ibunya berkata bahwa dia tidak memaksa Erna untuk pergi bersamanya, Erna sendiri yang mengajukan diri. Jika Erna tidak ingin pergi, sakit atau lelah, mereka tidak akan pergi bekerja, dan hanya akan tinggal di rumah. Ibunya selalu mendukung Erna, jika Erna ingin bersekolah sampai jenjang tertinggi yang dia inginkan, ibunya akan mendukung. Jika Erna tidak bisa bekerja dengan ibunya lagi, ibunya akan mencoba mencari pekerjaan lain seperti menjadi pembantu rumah tangga permanen. Untuk menjadi pembantu rumah tangga permanen, setidaknya ibunya harus tinggal di rumah majikannya dari pagi sampai sore. Saat ini, Erna masih tidak ingin ibunya meninggalkannya sepanjang hari. Mungkin jika Erna sudah dewasa, Erna akan mengijinkan ibunya, sehingga Erna tidak perlu bekerja dengan ibunya lagi dan Erna dapat berkonsentrasi untuk belajar.

Kemiskinan sering terjadi karena sistem yang tidak mendukung setiap warga negara untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Kemudian “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” hanya akan menjadi sebuah ironi.

Wahyu Purwaningsih

Mar 12, 2012

Jumada Rosada: Anak-anak Adalah Harta Kita




Keluarga Jumada Rosada selalu berjuang untuk hidup setiap hari. Ayah Rosada, yang pulang ke rumah setiap tiga hari sekali, adalah seorang pembuat sepatu keliling. Kadang-kadang dia dapat pulang ke rumah dengan gembira dan membawa uang Rp 30.000 sehari. Dengan penghasilan tidak tetap, keluarga mereka harus membayar Rp 300.000 per bulan untuk menyewa rumah dimana mereka tinggal bertujuh.




Keluarga Rosada mempunyai penyakit kulit menular karena mereka tidak dapat menggunakan air bersih dan selalu terkena cuaca panas. Kondisi setiap orang semakin membaik kecuali untuk anak pertama. Penyakit ini harus diobati terus-menerus, namun pada kenyataannya itu tidak mungkin.


Seorang anak bernama Rosada (9) dan saudara kandungnya bernama Ratih (11) mengurus dua saudara-saudara mereka yang lebih muda bernama Jayadi (6), Sare (3), dan Enisah yang merupakan adik bungsu mereka. Keluarga mereka bahagia meskipun hidup mereka tidak mudah. Meskipun mereka jarang melihat ayah mereka, namun mereka tetap merindukan dan mencintai ayah mereka. Ibu Rosada merasa bangga dengan anak-anaknya. Ratih, yang memiliki nilai tinggi di sekolah, mengatakan ia ingin menjadi po­­lisi, dan Rosada, yang suka matematika, mengatakan mimpinya adalah menjadi pilot di masa depan.

Mereka berharap dapat keluar dari kondisi yang sulit ini. Jika saja mereka mampu membeli rumah sederhana, mereka tidak perlu lagi membayar biaya sewa yang bila dibandingkan jauh lebih boros. Meskipun mereka bertujuh tinggal di satu ruangan yg sama, dan hanya menyantap telur, kacang, dan makanan ringan sebagai makanan pokok mereka, mereka percaya bahwa hidup yang lebih baik tengah menunggu di hadapan mereka. Kelima anak mereka adalah harta dan harapan mereka.



Mari Berbagi Cinta ... :)
 Oleh Kotak Cinta ♥ Gugah Nurani Indonesi

E-mail_sponsorship@gnindonesia.org
Tel_ +62-21-452-9674
Fax_+62-21-453-4595

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi kami :)

Penulis: Ms. Jung Hye Ji.
Editor : Mr. Zaldi Hamdani.


Gambar-gambar di situs ini tidak dapat dipublikasikan tanpa seizin Gugah Nurani Indonesia.
이 사진들은 굿네이버스 인도네시아의 허락없이 불법적으로 도용될 수 없습니다. 

Dec 22, 2011

Abdul Muis: Terlalu Muda Untuk Kehilangan Penglihatannya


Abdul Muis -biasa dipanggil- Abdul kini duduk di kelas 2 Sekolah Dasar. Ia tinggal bersama 5 saudara kandung dan kedua orangtuanya. Bapaknya seorang pekerja serabutan yang berpenghasilan Rp 70.000 sehari, sedangkan ibunya tidak bekerja. Orangtua Abdul percaya bahwa ia adalah anak yang cerdas, dan suatu saat akan menjadi orang yang sukses yang dapat membuat bangga kedua orangtuanya.




Abdul Muis menderita katarak di mata sebelah kanannya. Ia tidak dapat melihat dengan jelas, bahkan di sekolah ia seringkali kesulitan melihat tulisan di papan tulis. Orangtuanya pun harus berusaha keras agar Abdul dapat menjalani perawatan untuk matanya.


Untuk menutupi biaya perawatan rumah sakit, mereka telah menjual semua barang berharga di rumah mereka. Abdul telah menjalani operasi katarak dan perawatan di rumah sakit. Setelah itu orangtuanya harus membayar biaya rumah sakit sebesar Rp 3.000.000. Tapi ia harus tetap kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin. Dan kini mereka masih harus mengumpulkan uang untuk biaya perawatan dan pembuatan kacamata Abdul Muis yang jumlahnya tidak sedikit.






Untuk selanjutnya, Gugah Nurani Indonesia akan mendukung  biaya perawatan Abdul, dengan perkiraan biaya sebesar Rp 25.000.000, yang termasuk biaya pemeriksaan, pengobatan, operasi, dan perawatan.