May 29, 2012

Anak Pendiam: Masalah atau Potensi?





Putra digambarkan teman-temannya sebagai anak yang aktif, periang, mempunyai banyak teman dan senang bergaul. Adiknya, Putro, adalah  kebalikan dari Putra, ia anak yang pasif, pendiam, hanya memiliki sedikit teman, dan senang melakukan berbagai aktivitas sendirian.

Apakah yang Anda pikirkan ketika mendengar bahwa seorang anak memiliki sifat pasif, pendiam, dan senang menyendiri? Bandingkan dengan pikiran yang muncul ketika Anda mendengar mengenai seorang anak lain yang memiliki sifat aktif, periang, dan mudah bergaul.

Aktif, periang, mempunyai banyak teman dan senang bergaul adalah sebagian karakteristik yang menggambarkan extraversion. Sedangkan pasif, pendiam, senang menyendiri adalah sebagian karakteristik yang menggambarkan introversion.

Extraversion dan introversion adalah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Carl Gustav Jung (1875-1961), seorang psikiater asal Swiss dan salah satu tokoh dalam psikologi analisis. Extraversion dan introversion menggambarkan kecenderungan seseorang dalam menghadapi dunia luar. Para extravert cenderung berorientasi terhadap hal-hal dan dunia di luar dirinya, sedangkan para introvert cenderung berorientasi pada hal-hal dan dunia di dalam dirinya.

Extraversion dan Introversion
 



Extraversion adalah kecenderungan untuk fokus terhadap dunia di luar diri. Orang-orang extravert menyukai interaksi sosial dan cenderung bersemangat, senang berbicara dan tegas. Mereka menyukai keramaian, aktivitas sosial, seperti pesta dan berbagai macam kegiatan yang melibatkan banyak orang. Mereka juga cenderung menyukai interaksi sosial dan menghabiskan waktu bersama orang lain.

Introversion adalah kecenderungan untuk berpusat pada dunia di dalam diri. Orang-orang introvert cenderung tidak banyak bicara, dan tidak tertarik terhadap interaksi sosial. Mereka menyukai kegiatan yang dapat dilakukan sendiri atau dengan beberapa teman dekat saja. Bagi mereka, keramaian dan kegiatan yang melibatkan banyak orang merupakan hal yang melelahkan.

Berikut merupakan beberapa ciri-ciri yang membedakan antara orang-orang extravert dan introvert:

Extraversion
Introversion
Senang bergaul
Senang menyendiri
Senang berbicara
Senang mendengar
Lebih suka bertindak dibanding berpikir
Lebih suka berpikir dibanding bertindak
Menyukai pesta dan keramaian
Menyukai ketenangan
Membuka diri terhadap semua orang
Membuka diri hanya kepada orang-orang dekat
Ekspresif dan bersemangat
Tenang
Mudah teralihkan perhatiannya
Mudah berkonsentrasi
Mempunyai banyak teman
Mempunyai sedikit teman dekat
Mudah didekati
Lebih sulit didekati
Cepat dalam bertindak
Berpikir sebelum bertindak
Senang bekerja dalam kelompok
Senang bekerja sendiri

Menurut Jung, setiap orang mempunyai sisi introvert dan extravert. Bila diibaratkan dalam sebuah garis lurus, introversion dan extraversion berada di dua ujung garis yang berlawanan, bila seseorang memiliki nilai tinggi di salah satu sisi, misalnya introversion maka ia akan mendapatkan nilai rendah di sisi lainnya, yaitu extraversion. Tinggi rendahnya nilai mereka akan menentukan kecenderungan meerka yang dominan. Orang-orang introvert adalah mereka yang mendapatkan nilai tinggi pada introversion, sedangkan orang-orang extravert adalah mereka yang mendapatkan nilai tinggi pada extraversion.

Menentukan apakah seseorang introvert atau extravert tidak selalu dapat dilakukan hanya dengan melihat ciri-ciri yang disebutkan di atas, karena orang-orang yang introvert dapat saja terlihat seperti orang extravert pada saat-saat tertentu, dan begitu juga sebaliknya.

Pandangan Umum Mengenai Introversion
 



Secara umum, masyarakat cenderung memandang sifat-sifat extraversion sebagai hal yang baik, dan introversion sebagai hal yang buruk dan perlu diobati. Orang-orang introvert pun kerap disalahpahami sebagai orang-orang yang pemalu, tegang, kurang pergaulan, rendah diri, dan antisosial.

Hal ini semakin diperburuk dengan banyaknya berita-berita kriminal di berbagai media yang menghubungkan sifat seseorang yang pendiam dengan kemampuan mereka untuk melakukan sebuah tindakan kriminal yang tidak diduga-duga. Hal ini membuat orang berpikir bahwa orang-orang pendiam adalah orang-orang dengan kelainan mental yang memiliki kecenderungan untuk meledak sewaktu-waktu dan dapat berbuat nekat, sehingga mereka perlu diwaspadai dan diobati.

Selain itu, anak-anak introvert pun kerap mendapatkan tekanan dari lingkungan untuk menjadi lebih “normal”, yang berarti lebih extravert. Dengan maksud “menyembuhkan” anak-anak introvert, kita kerap mendengar ucapan-ucapan seperti: “Jangan di kamar mulu dong, bergaul kek”; “Ayo dong maen sama yang lain, jangan sendirian terus”. Banyak orangtua juga mencoba “mengobati” anak introvert mereka dengan mengajak mereka ke acara-acara keluarga yang dipadati banyak orang dan mendorong mereka bermain dengan anak-anak lain secara berkelompok.

Selain oleh orangtua sendiri, tekanan juga dapat muncul dari orang-orang dekat seperti saudara, kerabat, teman, serta guru di sekolah. Hingga saat ini, metode pendidikan di institusi pendidikan pun lebih memihak kepada orang-orang extravert; dengan besarnya penekanan dan penilaian terhadap partisipasi aktif di kelas. Meskipun anak-anak introvert juga dapat memperoleh manfaat dengan berpartisipasi aktif di kelas, metode ini tidak memaksimalkan potensi alamiah mereka, yang cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir dan lebih cakap dalam komunikasi non-verbal. Hal ini membuat mereka terlibat dalam persaingan yang tidak seimbang dengan orang-orang extravert.

Tuntutan dari lingkungan untuk mengubah orang-orang introvert menjadi lebih extravert memberikan banyak tekanan pada mereka. Selain harus melawan kecenderungan dan sifat alami mereka, mereka juga mendapatkan perlakuan tidak adil karena cara mereka yang berbeda dalam mengalami dan menghadapi dunia luar. Selain itu, mereka juga tidak dapat berkonsentrasi mengembangkan kelebihan dan potensi yang sudah mereka miliki.

Akibatnya, banyak anak introvert yang tumbuh secara tidak optimal, yang senantiasa melawan kecenderungan alami mereka dan dipaksa untuk menjadi orang lain.

Mitos Mengenai Introversion


Berikut adalah beberapa mitos mengenai orang-orang introvert:

1. Tidak suka bicara
Orang-orang introvert kesulitan untuk berbasa-basi dan membicarakan hal-hal yang tidak mereka anggap penting. Keadaannya akan berbeda jika mereka diajak berbicara mengenai hal yang menarik buat mereka.

2. Pemalu
Sifat pemalu tidak berhubungan langsung dengan introversion. Walaupun terdapat orang-orang introvert yang pemalu, tidak sedikit pula orang-orang extravert yang pemalu. Orang-orang introvert tidak takut terhadap orang lain, mereka hanya tidak membutuhkan interaksi sosial sebanyak orang lain dan membutuhkan alasan untuk berinteraksi dengan orang lain.

3. Sombong
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, orang-orang introvert cenderung kesulitan untuk berbasa-basi dengan orang lain. Mereka hanya ingin bersikap jujur dan apa adanya, dan mengharapkan hal yang sama dari orang lain. Sayangnya hal ini tidak diterima di masyarakat dimana basa-basi, baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan, sudah dianggap sebagai hal yang wajar dan diperlukan dalam keseharian . Hal ini membuat mereka seringkali dipandang sebagai orang-orang yang sombong.

4. Tidak menyukai orang lain
Orang introvert memang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dan dekat dengan orang lain, namun tidak berarti bahwa mereka tidak menyukai orang lain. Sebaliknya, orang-orang introvert sangat menghargai teman-teman dekat mereka, walaupun jumlahnya mungkin bisa dihitung dengan jari. Mereka memiliki lebih sedikit teman, namun kualitas hubungan mereka dengan teman yang lebih sedikit ini pun lebih dalam.

5. Tidak suka keramaian
Berada di tengah keramaian merupakan hal yang melelahkan bagi orang-orang introvert, karena banyaknya rangsangan dari lingkungan yang harus mereka terima di saat yang bersamaan. Hal ini membuat orang-orang introvert tidak suka menghabiskan waktu terlalu lama di tempat yang ramai.

6. Selalu ingin sendiri
Orang-orang introvert menikmati kesendirian mereka dimana mereka dapat melakukan kegiatan yang mereka sukai tanpa diganggu orang lain, namun mereka juga membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain, hanya saja dengan frekuensi dan intensitas yang lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang extravert.

7. Aneh
Karena orang-orang introvert banyak menghabiskan waktu sendirian, mereka seringkali mempunyai ide-ide dan cara pandang yang berbeda dari kebanyakan orang. Hal ini membuat banyak orang-orang introvert melahirkan ide-ide yang orisinil dan tidak terpikirkan orang lain. Namun, bagi kebanyakan orang, mereka cenderung dipandang sebagai orang yang berbeda dan “aneh”.

8. Tidak bisa bersantai dan bersenang-senang
Orang-orang introvert lebih suka bersantai di rumah mereka sendiri, atau di tempat yang sepi, dibandingkan dengan tempat yang ramai. Bila dihadapkan pada terlalu banyak rangsangan dari luar, orang introvert akan merasa kewalahan. Hal ini berhubungan dengan perbedaan cara kerja otak dan sistem syaraf antara orang-orang introvert dan extravert (yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah).

9. Tidak percaya diri
Orang-orang introvert seringkali disalahartikan sebagai orang-orang yang dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah dan canggung secara sosial. Hal ini tidak benar, karena kecenderungan mereka yang tidak ekspresif dan sering menghabiskan waktu sendiri bukan disebabkan oleh rasa percaya diri yang rendah, namun oleh sifat mereka yang memang demikian adanya.

10. Introvert dapat mengubah diri mereka menjadi extravert
Dunia tanpa orang-orang introvert adalah dunia dengan sedikit ilmuwan, musisi, seniman, pembuat film, dokter, penulis, dan filsuf. Orang-orang introvert tidak bisa dan tidak perlu mengubah kecenderungan alami mereka. Hal ini karena baik orang-orang introvert maupun extravert memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang saling melengkapi; yang dibutuhkan adalah pemahaman atas perbedaan kedua kecenderungan tersebut dan bagaimana menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut.

Diskriminasi Terhadap Orang-Orang Introvert
 



Keinginan orang-orang untuk mengubah anak-anak introvert untuk menjadi lebih extravert muncul dari kesalahpahaman bahwa introversion adalah kekurangan yang harus diatasi dan disembuhkan. Kenyataannya, introversion dan extraversion adalah kecenderungan pribadi yang juga dipengaruhi faktor genetis dan berada di luar kontrol manusia. Perbedaan kecenderungan ini pun sudah terlihat dari perbedaan aktivitas pada sistem syaraf antara orang-orang extravert dan introvert.

Menurut Marti Olsen Laney, Psy.D -seorang peneliti neuroscience dan psikoanalis asal Amerika Serikat yang juga merupakan pelopor dalam memberikan landasan biologis untuk introversion- introversion merupakan kondisi biologis. Ia mengemukakan pendapatnya berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa cara kerja otak dan jalur syaraf yang digunkan oleh orang-orang introvert berbeda dengan orang-orang extravert.

Bila orang-orang extravert lebih banyak menggunakan ingatan jangka pendek dan bagian otak yang berhubungan dengan rangsangan indrawi, orang-orang introvert lebih banyak menggunakan ingatan jangka panjang dan bagian-bagian otak yang berhubungan dengan penyelesaian masalah, perencanaan, serta perasaan dan pikiran. Keduanya membutuhkan neurotransmiter yang berbeda pula. Orang-orang extravert bergantung pada dopamin, yang identik dengan kesiagaan, perhatian, gerakan, dan pembelajaran. Orang-orang extravert membutuhkan banyak dopamin untuk merasa senang; bersikap aktif dan menerima rangsangan meningkatkan produksi dopamin, sehingga orang-orang extravert menyukai kesibukan.

Di lain sisi, orang-orang introvert bergantung pada asetilkolin, yang mempengaruhi ingatan jangka panjang dan kemampuan untuk merasa tenang serta siaga. Asetilkolin menimbulkan perasaan senang saat seseorang berpikir dan merasa, yang membuat orang-orang introvert menyukai berpikir dan merenung. Ia juga mengungkapkan bahwa perbedaan biologis ini berpengaruh terhadap kecenderungan orang-orang introvert untuk lebih sensitif terhadap berbagai jenis stimulus, seperti suhu udara, bau, suara, stimulasi visual dan tingkat gula dalam darah.

Bukti-bukti ilmiah ini menunjukkan bahwa introversion tidak seharusnya dipandang sebagai sebuah kekurangan dan penyakit yang perlu disembuhkan, namun sebagai perbedaan yang sewajarnya diterima.

Menghadapi Anak-Anak Introvert
 



Lalu apa yang dapat kita lakukan agar anak-anak introvert di sekitar kita dapat menemukan jati diri mereka, memaksimalkan potensi yang mereka miliki dan bertahan di tengah masyarakat yang hingga saat ini masih cenderung memihak kepada orang-orang yang extravert? Mari kita simak beberapa tips berikut ini:

1. Terimalah mereka apa adanya
Anak-anak introvert sudah mendapatkan tekanan cukup berat dari lingkungan yang cenderung didominasi oleh dan berpihak pada orang-orang extravert. Sangat penting bagi anak untuk merasa diterima dan bahwa tidak ada yang salah dengan dirinya, sehingga ia bisa mengembangkan rasa percaya diri dan konsep diri yang positif.

Menerima mereka apa adanya juga berarti tidak memaksa anak untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kecenderungan alaminya. Bila anak hanya suka bermain dengan satu atau dua orang teman baik saja, jangan paksa dia untuk bermain bersama banyak anak lain di saat yang bersamaan. Bila anak lebih senang menghabiskan waktu untuk membaca buku atau bermain sendirian, jangan paksa dia untuk keluar rumah atau bermain bersama anak-anak lain.

Dalam mendisiplinkan anak, penting untuk mengingat bahwa anak-anak introvert lebih sensitif dibandingkan dengan anak-anak extravert, oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang berbeda pula dalam mendidik mereka.

2. Kenali minat dan potensi anak
Setiap anak adalah unik dan memiliki kelebihan dan potensi masing-masing. Mengembangkan minat merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan kepuasan dan mengembangkan rasa percaya diri pada anak. Amatilah minat dan potensi anak, dan bimbinglah mereka untuk mengembangkan kelebihan dan potensi yang mereka miliki.

Jangan lupakan juga bahwa setiap anak mungkin memiliki minat yang berbeda, ada yang senang bermain sepakbola, bola basket, namun jangan abaikan juga mereka yang menaruh minat terhadap serangga, binatang, alam, ilmu pengetahuan, komputer,  bisa jadi mereka adalah calon-calon dokter, ilmuwan, dan programmer.

3. Hadapi situasi baru secara bertahap
Bila anak tampak ragu menghadapi situasi atau orang-orang baru, ajak mereka untuk menghadapinya secara perlahan dan bertahap. Hargailah usaha mereka dan berikan mereka kesempatan untuk menghadapi situasi tersebut sesuai dengan keinginan mereka. Anak-anak introvert lebih suka mengamati keadaan terlebih dahulu sebelum memasuki tempat atau situasi yang baru.

4. Hindari memberi cap pada anak
Memanggil anak dengan sebutan “pendiam”, “pemalu” dan “penyendiri” adalah salah satu bentuk kekerasan verbal, yang dapat menyakiti perasaan dan meracuni pikiran anak, bahwa ia sesuai dengan sebutan-sebutan itu. Anak-anak yang dipanggil dengan label-label semacam itu dapat merasa tidak diterima dan merasa bahwa ada yang salah dengan diri mereka. Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah dalam perkembangan psikologis seseorang, dan dapat terus berdampak hingga ia dewasa. Bila mendengar orang lain memanggil anak dengan sebutan seperti “pemalu” di depan anak tersebut, cobalah untuk memperhalus dengan mengatakan “Bobi sangat baik dalam mengamati dan menilai keadaan”. Hal ini akan mencegah anak berpandangan negatif mengenai dirinya.

5. Ajari anak menjadi lebih tegas
Anak introvert cenderung kesulitan bersikap tegas, sebuah kualitas yang dimiliki oleh anak-anak extravert. Ajari dia untuk bersikap tegas ketika dia mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang lain, seperti bila seseorang merebut mainannya. Beritahu dia bahwa Anda mengerti perasaannya, dan ajari dia untuk berkata “Jangan!” atau “Hentikan!”.

6. Hadir lebih awal di tempat baru dan acara-acara yang didatangi banyak orang
Saat akan menghadiri tempat atau acara yang didatangi orang banyak, seperti sekolah, pesta ulang tahun, dan acara keluarga, ajak anak untuk datang sebelum orang-orang lain berdatangan. Ini akan memberi kesempatan pada anak untuk menyesuaikan diri dan membuatnya merasa “memiliki” tempat tersebut. Bagi anak introvert, hal ini akan jauh lebih mudah untuk dihadapi dibandingkan memasuki sebuah pesta yang sudah dipadati banyak orang.

7. Ajari anak melalui contoh
Mengajarkan perilaku pada anak akan jauh lebih mudah dengan memberi contoh. Biarlah dia melihat bagaimana Anda berinteraksi dengan orang lain. Saat Anda mengucapkan terima kasih kepada seseorang, ia belajar untuk membangun komunikasi ringan dengan orang lain, saat Anda meminta anak untuk memberi uang pada kasir di supermarket, Anda mengajarkannya untuk berinteraksi dengan orang baru dengan Anda di sisinya.

8. Berikan mereka waktu lebih untuk berpikir
Anak-anak introvert membutuhkan waktu lebih lama untuk merespon sesuatu, baik itu pertanyaan atau permintaan dari orang lain, maka dari itu berilah mereka waktu untuk berpikir. Ini karena mereka perlu lebih dulu memproses semuanya dalam pikiran mereka. Ini juga membuat mereka membutuhkan persiapan yang lebih dibandingkan orang-orang lain untuk melakukan segala sesuatu.

Di sekolah, anak introvert dapat tampak sebagai anak yang pasif dan tidak banyak berpartisipasi di kelas. Hal ini karena mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses pelajaran dan pertanyaan yang diberikan oleh guru. Di institusi pendidikan yang menekankan pada partisipasi aktif semacam ini, anak-anak introvert membutuhkan usaha yang lebih keras untuk menyesuaikan diri dan mengeluarkan potensinya. Keadaannya akan berbeda bila ia diminta untuk membuat makalah atau mengerjakan tugas secara tertulis, dimana ia bisa menuangkan pikirannya tanpa diburu oleh waktu dan tanpa harus bersaing dengan orang lain untuk menunggu giliran bicara.

9. Berikan teguran secara pribadi
Bila hendak menegur anak untuk sebuah kesalahan yang ia lakukan, pastikan tidak ada orang lain di sekitar Anda. Anak-anak introvert lebih sensitif sehingga teguran yang diberikan di hadapan orang lain akan membuat mereka merasa dipermalukan dan dapat merusak kepercayaan diri mereka. Tindakan-tindakan seperti menyindir anak di hadapan orang lain, juga dapat memiki pengaruh buruh terhadap anak-anak introvert.

10. Hargai kebutuhan anak untuk menghabiskan waktu sendiri
Meskipun nampaknya tidak lazim ketika seorang anak lebih suka menghabiskan waktu sendirian dibanding bersama orang-orang lain, anak-anak introvert cenderung membutuhkan waktu sendirian lebih lama. Mereka juga tidak dapat berlama-lama menghabiskan waktu di tengah banyak orang, karena hal ini akan membuat mereka merasa kelelahan.

Hentikan Diskriminasi!
 



Berdasarkan penjelasan di atas, terlihat bahwa anak-anak introvert membutuhkan perhatian yang lebih dan khusus dibandingkan dengan anak-anak yang extravert. Hal ini tidak mengejutkan mengingat selama ini masyarakat cenderung didominasi oleh orang-orang dan budaya yang memihak pada extraversion, sehingga kebanyakan orang berpikir bahwa semua orang memiliki kecenderungan yang sama dan seharusnya menunjukkan perilaku yang sama juga. Akibatnya, orang-orang introvert yang menjadi minoritas kerap disalahpahami sebagai orang-orang yang mengidap kelainan, karena berbeda dengan kebanyakan orang lainnya.

Padahal, introversion dan extraversion adalah dua hal yang berbeda dan tidak dapat dibandingkan. Mengatakan extraversion lebih baik daripada introversion sama saja dengan mengatakan bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan; keduanya merupakan hal yang berbeda dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula.

Bila diskriminasi jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan telah berhasil kita hapuskan, maka kini saatnya menghapus diskriminasi antara anak-anak introvert dan extravert, setidaknya dalam lingkup kecil dahulu, mulai dari anak-anak di sekitar kita. Hingga suatu saat nanti institusi-institusi pendidikan pun dapat mengembangkan metode pendidikan yang tidak menyeragamkan pembelajaran bagi semua anak dengan tolak ukur dan penilaian yang sama, namun juga mempertimbangkan perbedaan-perbedaan individual dan menggali serta mengembangkan minat, bakat, dan kelebihan yang dimiliki tiap-tiap anak dengan cara yang sejalan dengan karakteristik dan kepribadian mereka.


Zaldi Hamdani

Sumber Pustaka

Extraverted or Introverted Preference
Extraversion or Introversion
Ten Tips for Parenting Your Introverted Child
Raising an Introvert In an Extrovert World
10 Myths About Introverts

Sumber Gambar

http://www.socialnatural.com/wp-content/uploads/2012/01/Introversion-Extroversion-Social-Natural.jpg 
http://www.socialmediamom.com/wp-content/uploads/2011/03/little-boy-reading.jpg   
http://www.hvmag.com/Blogs/Mama-Greenest/May-2012/Differing-Personalities-Understanding-Your-Spirited-High-Needs-Kid/5.8.12.boyyelling.jpg 
http://img4-3.realsimple.timeinc.net/images/1114/child-hood-2_300.jpg 
http://img4-2.realsimple.timeinc.net/images/1114/child-hood-1_300.jpg 
http://timesofindia.indiatimes.com/photo/6180528.cms 
http://www.wired.com/geekmom/wp-content/uploads/2011/04/iStock_000013588045XSmall.jpg 
http://backyardskeptics.com/wordpress/wp-content/uploads/2011/09/Discrimination.jpg

9 comments:

  1. Nice info gan. ngomong nognong ane termasuk orang introvert ternyata.hehe

    ReplyDelete
  2. Thanks artikelnya membuat saya yakin
    bahwa saya normal

    ReplyDelete
  3. gwe jg intovert , kadang di bully walaupun scara verbal bkan fisik

    ReplyDelete
  4. Nice post :) sangat menginspirasi. Terima kasih.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, lewat artikel ini sy smakin mengenali diri, n bahwa tidak ada yg salah pd diriku. Normal dan alaminya aku, tdk perlu berusaha mjd orang lain atau yg diinginkan orang lain

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, lewat artikel ini sy smakin mengenali diri, n bahwa tidak ada yg salah pd diriku. Normal dan alaminya aku, tdk perlu berusaha mjd orang lain atau yg diinginkan orang lain

    ReplyDelete