Apr 24, 2012

Anak Sekecil Itu...

 




Anak sekecil itu, berkelahi dengan waktu,
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu,
Anak sekecil itu, tak sempat nikmati waktu,
Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal...

 
Lirik lagu karangan Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran terngiang-ngiang di kepalaku kala melihat sesosok tubuh mungil di perempatan lampu merah Pengairan. Bocah laki-laki itu perawakannya tidak terlalu gemuk namun juga tidak terlalu kurus, pakaiannya pun lusuh.

Kami melihatnya saat di perempatan lampu merah Pengairan. Saat kami tiba di sana, bocah laki-laki itu sedang asyik membaca buku yang juga sudah lusuh. Saat lampu merah, abangku langsung bertanya padanya ”Ada PR ya?”, bocah itu mendongak melihat sumber suara, sambil tersipu malu, dia menggeleng. Lalu ku berkata padanya ”Oo, lagi belajar aja ya?”. Sang bocah kembali tersipu, dia pun segera membereskan buku yang dipegangnya dan segera memasukkannya ke dalam sebuah tas; tas yang didalamnya masih terdapat beberapa buku lain, yang juga sama lusuhnya.

Ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah, sang bocah segera beranjak mendekati mobil-mobil yang sedang berhenti dan mulai bernyanyi sambil bertepuk tangan. Ooh ternyata bocah itu adalah pengamen. Saya pun sempat melirik bukunya, ternyata buku pelajaran Matematika, tingkat 3, semester 5 & 6. Hmm, ternyata bocah itu masih kelas 3 SD!

Salut dengan semangatnya. Mungkin dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, namun semangatnya untuk belajar tetap tinggi. Bandingkan dengan anak-anak dari orang yang mampu secara finansial, dengan segala kemudahan yang mereka miliki, mereka justru menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa belajar dan bersekolah. Sering bolos sekolah, belajar tidak semangat, asyik senang-senang. Suatu keadaan yang ironis...

Masih ingatkah Anda pada salah satu pasal dari UUD 1945? Pasal 34 ayat 2 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Sekarang mari kita lihat keadaan yang terjadi saat ini di negara kita.

Boro-boro negara alias pemerintah mau memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar, memikirkannya pun mungkin tak pernah terlintas di pikiran mereka. Semua sibuk memikirkan diri sendiri dan memperkaya diri sendiri. Bahkan mereka justru memproduksi fakir miskin dan anak-anak terlantar dengan kebijakan-kebijakan yang mereka terapkan. Sangat disayangkan, potensi besar yang terpendam yang mungkin dimiliki banyak anak jalanan tidak bisa tergali dengan baik. 

Mari kita berandai-andai. Andai saja pemerintah memiliki kepedulian terhadap perkembangan anak-anak jalanan, bukan tidak mungkin negara ini akan jauh lebih baik. Anak-anak usia sekolah tidak perlu  berkeliaran dijalanan, tidak perlu mengamen, tidak perlu meminta-minta, tidak perlu mencopet, dan tidak perlu terjerumus dalam tawuran. Mereka semua sibuk bersekolah, menuntut ilmu, dibekali pengetahuan dan keterampilan. Waaah negara ini pasti akan lebih cepat untuk menjadi maju!
 
Tapi sebenarnya, kesalahan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, kita sebagai warga negara juga bisa turut membantu pemerintah untuk menangani masalah anak jalanan ini. Bagaimanapun, semua pihak harus bekerjasama dan saling membantu jika kita ingin menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial. Jika saja setiap orang tidak hanya sibuk memikirkan diri mereka sendiri dan lebih peduli terhadap orang lain, mungkin banyak permasalahan sosial yang dapat  kita selesaikan.

Seorang yang bijak pernah berkata, ”Cintailah orang lain seperti kita mencintai diri kita sendiri”. Jika ada orang lain merasakan penderitaan, kita seharusnya juga dapat memahami penderitaan mereka dan  membantu semaksimal yang kita bisa untuk meringankan penderitaan mereka.

Mari bergerak, mulai dari diri kita sendiri, mulai dari yang kecil, mulai sekarang juga!

Wahyu Purwaningsih

Sumber Gambar
 
 
http://chilvilibra.blogspot.com/2012/02/ingin-kerumah-presiden-sby.html

2 comments:

  1. Masih banyak anak- anak yang sperti itu.... sebenarnya semangat anak untuk belajar sangat kuat... tetapi orang tua lah yang sering kali mematahkannya yang akhirnya membuat mereka jadi sperti itu...

    Sungguh ironis sekali........

    ReplyDelete
  2. Seandainya para pejabat itu berhenti korupsi dan uang yang mereka korupsi itu untuk membantu anak2 jalanan ... Pasti permasalahan semacam itu tidak perlu terjadi lagi ... Hiks!

    ReplyDelete