Aug 2, 2012

Tugas Anak: Belajar atau Bermain?




Sekolah dari pagi sampai siang hari, mengikuti kursus, les, pelajaran tambahan dan pulang sore hari sebelum gelap. Setelah makan malam kembali belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, dan bersiap untuk tidur.

Gambaran tersebut merupakan keseharian yang dijalani oleh seorang anak sekolah selama 5 hari dalam seminggu. Rutinitas yang dianggap sebagai hal yang wajar bagi masyarakat di masa kini. Para guru dan orangtua berpendapat bahwa untuk dapat sukses dalam kehidupan, anak harus berprestasi di sekolah, dan untuk itu anak-anak harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar, dan di saat yang sama mengurangi waktu mereka untuk bermain. Bermain dianggap sebagai kegiatan yang sia-sia dan tidak berguna, karena dinilai tidak berperan dalam meningkatkan prestasi anak di sekolah.

Dalam pembahasan ini, permainan yang dimaksud adalah permainan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1. Permainan dipilih sendiri secara sukarela, dan dilakukan berdasarkan keinginan sendiri, bukan karena keharusan. Ini juga berarti permainan lepas dari pengawasan dan kendali orang dewasa. Karena orang dewasa dipandang sebagai sosok penguasa, anak-anak cenderung tidak merasa leluasa dalam permainan tersebut, misalnya untuk keluar ataupun menentang aturan yang berlaku, dibandingkan bila permainan tersebut dipimpin oleh anak lainnya.

2. Permainan dimana proses bermain lebih penting daripada tujuan yang hendak dicapai dalam permainan tersebut.

3. Peraturan permainan dibuat sendiri oleh anak-anak yang mengikuti permainan tersebut, bukan karena keharusan.

4. Mengandung unsur khayalan dan terpisah dari kenyataan.

5. Anak-anak berada dalam keadaan aktif, siaga, namun tidak tertekan. Dalam keadaan tertekan, misalnya tertekan untuk menang, anak-anak akan lebih terfokus pada tujuan sehingga tidak dapat menikmati proses bermain tersebut sepenuhnya.

Manfaat Bermain

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang dapat dirasakan oleh anak-anak melalui kegiatan bermain, yang tidak mereka dapatkan melalui pelajaran di sekolah:

1. Mengambil Resiko dan Mengatasi Rasa Takut

Permainan yang mengandung resiko bahaya seperti memanjat pohon, melompat ke dalam air dari ketinggian, berlari, kejar-kejaran, dan bermain sepeda dapat memaparkan anak pada bahaya dalam situasi yang terkendali. Anak akan belajar untuk mengambil resiko -misalnya memanjat lebih tinggi, berlari atau bersepeda lebih kencang- secara bertahap, sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengelola dan mengatasi rasa takut yang muncul akibat tindakan mereka tersebut. Dengan demikian, mereka akan belajar bahwa rasa takut itu merupakan hal yang wajar dan sesuatu yang dapat mereka atasi sendiri. Ini akan membuat anak tumbuh sebagai orang yang mampu mengelola dan mengatasi rasa takut.

2. Mengembangkan Rasa Empati

Permainan peran yang seringkali dilakukan anak-anak mengajarkan mereka untuk menempatkan diri mereka dalam posisi orang lain dan melihat dari sudut pandang orang tersebut. Hal ini mendorong mereka untuk mengetahui apa yang mungkin dirasakan dan dipikirkan orang lain sehingga mengembangkan kepekaan dan kemampuan mereka untuk berempati terhadap orang lain. Contohnya, sekelompok anak yang bermain rumah-rumahan, dimana ada yang berperan sebagai kakek, nenek, bapak, ibu, kakak, dan adik akan mengembangkan pemahaman mereka mengenai masing-masing peran yang mereka perankan tersebut, yang kemudian akan mengembangkan rasa empati mereka.

3.  Mempersiapkan Anak Menghadapi Kehidupan Nyata

Kondisi lingkungan dan masyarakat bukan selalu merupakan tempat yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Permainan membantu anak-anak untuk belajar menerima dan menyesuaikan diri dengan hal-hal yang akan mereka temui di kehidupan nyata.

Salah satu contoh nyatanya dapat dilihat melalui sebuah buku berjudul Children and Play in the Holocaust oleh George Eisen. Melalui buku tersebut, George Eisen menceritakan kisah para anak-anak di kamp konsentrasi Nazi yang tetap bermain di tengah kondisi yang serba sulit tersebut. Anak-anak tidak bermain karena mereka tidak memahami apa yang terjadi di sekitar mereka, bukan juga sebagai cara untuk mengalihkan diri dari hal-hal buruk yang terjadi di sekitar mereka, namun mereka justru melakukan permainan-permainan yang membantu mereka memahami, menghadapi, dan -dalam derajat tertentu-  mengatasi hal-hal buruk yang mereka hadapi disana.

Salah satu contoh permainan yang dimainkan adalah klepsi klepsi yang dibuat berdasarkan salah satu rutinitas di kamp. Satu pemain ditutup matanya, kemudian salah satu pemain lainnya akan maju dan memukul wajahnya. Setelah itu, dengan tutup mata dibuka, anak yang dipukul harus menebak melalui ekspresi wajah atau bukti lainnya siapa yang memukulnya. Agar dapat bertahan hidup di kamp konsentrasi, tahanan harus cakap dalam berbohong, misalnya tentang mencuri makanan atau mengetahui rencana seseorang untuk melarikan diri, tanpa diketahui para petugas. Klepsi klepsi mempersiapkan mereka menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Melalui permainan, baik permainan biasa maupun permainan sebagaimana digambarkan oleh Eisen diatas, anak-anak mengubah kenyataan yang mereka hadapi ke dalam konteks fantasi, yang membuat hal-hal tersebut aman untuk dihadapi dan dialami sehingga mereka dapat menemukan cara-cara untuk menghadapi hal-hal tersebut.

Banyak pihak berpikir bahwa permainan yang kasar menciptakan orang-orang dewasa yang kasar; padahal dalam kenyataannya hal sebaliknyalah yang berlaku. Kekerasan dalam dunia orang dewasa yang mendorong anak-anak untuk bermain dengan kekerasan.

Dampak Buruk Kekurangan Bermain

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, kesempatan bagi anak-anak untuk bermain tanpa arahan dan pengawasan dari orang dewasa telah banyak menurun sejak beberapa puluh tahun terakhir. Padahal permainan adalah salah satu cara anak-anak belajar mengatasi persoalan, melatih kemandirian, mengembangkan minat, serta mengasah kemampuan mereka dalam minat mereka tersebut.

Dengan mengurangi kesempatan anak-anak untuk bermain sendiri, tanpa diawasi dan dikendalikan oleh orang tua, kita juga mengurangi kesempatan mereka untuk belajar mandiri. Dengan dalih melindungi anak-anak, pada nyatanya kita mengurangi kesenangan mereka, kemampuan mereka untuk mandiri, mengurangi kesempatan mereka untuk mencoba dan menemukan kegiatan yang mereka sukai, dan meningkatkan kemungkinan mereka untuk mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan kelainan mental lainnya.

Belajar atau Bermain?

Di masa sekarang, anak semakin dituntut untuk mengejar prestasi demi kesuksesan di masa depan, kesuksesan yang seringkali diartikan semata-mata sebagai kesuksesan dalam lingkup pekerjaan dan materi, dengan mengesampingkan kesejahteraan mental dan psikologis mereka.

Atas nama menjamin masa depan dan kebahagiaan anak, kita kerap mengabaikan kebutuhan dasar mereka untuk berkembang secara alami dengan cara-cara yang alami. Kita menganggap mereka sebagai orang-orang dewasa kecil yang juga butuh diperlakukan secara dewasa dalam menghadapi kehidupan. Pada nyatanya, anak-anak adalah anak-anak, yang memiliki cara pandang yang berbeda dibandingkan orang dewasa, dan karena itu membutuhkan cara dan penanganan yang berbeda pula untuk belajar.

Alangkah baiknya bila kita, sebagai orang dewasa, juga belajar melihat dunia dari sisi anak-anak dan secara terus menerus mencoba menemukan metode yang paling sesuai untuk mengajari anak-anak mengenai kehidupan, salah satunya dengan memberikan waktu dan kesempatan bagi mereka untuk bermain tanpa campur tangan orang dewasa, serta memastikan keseimbangan antara kegiatan belajar dan bermain anak.

Zaldi Hamdani


Sumber Pustaka

The Dramatic Rise of Anxiety and Depression in Children and Adolescents: Is It Connected to the Decline in Play and Rise in Schooling?

Free Play Is Essential for Normal Emotional Development

The Value of Play I: The Definition of Play Provides Clues to Its Purposes

The Value of Play II: How Play Promotes Reasoning in Children and Adults

The Value of Play III: Children Use Play to Confront, not Avoid, Life’s Challenges and Even Life’s Horrors

The Value of Play IV: Play is Nature’s Way of Teaching Us New Skills

How to Ruin Children’s Play: Supervise, Praise, Intervene










Sumber Gambar

http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1293018916/perlindungan-anak





Jul 27, 2012

Indonesia Tak Lagi Ramah Anak


Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas 1.904.569 km2, dan memiliki kurang lebih 17.508 pulau dan jumlah penduduk 259 juta jiwa tentu merupakan sebuah jumlah yang sangat besar. Dengan hasil bumi, laut dan keanekaragaman lainnya tentu menjadi sebuah tempat yang nyaman, karena segalannya ada di Indonesia.

Banyak turis mancanegara mengagumi keindahan dan keunikan yang ada di Indonesia, bahkan ada yang mengatakan bahwa Indonesia menjadi tujuan wisata mancanegara karena memberikan kenyamanan. Hal tersebut terlihat dari lirik lagu “Indonesia Tanah Air Beta” karangan Ismail Marzuki, yang menyiratkan “Indonesia sejak dulu kala, tetap di puja-puja bangsa”. Kemudian dilanjutkan pada bait kedua; “Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata”. Tersirat sangat jelas dan tentu menggetarkan ketika kita membaca dan mendengarkan lagu ini, dimana Indonesia adalah tempat kita bertumbuh dan berlindung hingga ajal menjemput.

Namun yang terjadi belakangan ini, Indonesia tak lagi sesuai harapan Ismail Marzuki dalam lagunya, Indonesia saat ini tak lagi nyaman dan ramah, khususnya bagi anak-anak. Anak selalu didengungkan sebagai generasi penerus bangsa, hal ini terlihat jelas ketika almarhum Soeharto -mantan presiden kita- melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa dan perlu diperhatikan. Hal tersebut dinyatakan berdasarkan Keputusan Presiden RI No.44 tahun 1984, yang menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional.

Tapi kini, pernyataan anak sebagai generasi penerus bangsa lagi-lagi seperti celotehan yang ketika didengar dapat masuk dari kuping sebelah dan keluar dari kuping yang satu lagi. Berbicara mengenai anak, tentu sangat banyak aspek yang harus diperhatikan, dan tentu berbeda dengan saat kita membahas mengenai sebuah produk alat rumah tangga, atau perlengkapan kantor. Dalam hal ini, anak harus dipandang dari penghargaan terhadap hak mereka sebagai anak.

Tak Lagi Ramah

Indonesia sebagai anggota PBB telah ikut berpartisipasi dalam meratifikasi sebagian besar instrumen HAM, salah satunya adalah International Convention of the Rights of The Child atau Konvensi Hak-hak Anak. Terdapat prinsip umum yang menjadi konsentrasi penting yaitu, non-diskriminasi (universalitas), kepentingan terbaik bagi anak, terpenuhinya hak-hak dasar anak, serta partisipasi anak.

Bila kita cermati, terdapat banyak aspek terkait prinsip umum dimana kepentingan terbaik bagi anak harus dikedepankan. Pada kenyataannya, terdapat banyak persoalan terkait dengan anak, permasalahan-permasalahan yang tidak kunjung selesai dan terus melebar. Anak-anak di berbagai daerah tidak memiliki akses pendidikan, seperti yang kita ketahui biaya pendidikan sangat besar, dimana seharusnya anak-anak mendapatkan pendidikan yang wajib dan gratis (pasal 31 UUD 1945). Fasilitas sekolah yang kurang baik harus dihadapi anak-anak ketika mereka sedang melaksanakan kegiatan belajar. Akses kesehatan terhadap anak masih kurang terjangkau, seharusnya anak juga bisa mendapatkan asuransi sosial dan keamanan sosial meskipun anak tidak memiliki hak untuk bekerja, tetapi hal tersebut sangat penting untuk dimiliki oleh anak. Dalam hal lingkungan keluarga ini juga perlu diperhatikan, anak-anak wajib mendapatkan pola pengasuhan yang baik, apabila si anak sudah tidak memiliki orang tua, mereka wajib diasuh oleh keluarga alternatif, dalam hal ini yang masih memiliki hubungan darah dengan orang tuanya dan tentu mendapat pemantauan dari petugas atau lembaga negara yang membidangi urusan anak. Selain itu juga, anak perlu mendapatkan perlindungan khusus, seperti perlindungan terhadap situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, eksploitasi dan kekerasan serta anak yang berasal dari keluarga minoritas dan masyarakat adat terasing. Akhir-akhir ini tontonan yang ditayangkan juga tak ramah anak, bahkan program tayangan televisi untuk anak sangat minim.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, sangat diperlukan sebuah refleksi besar terkait persoalan anak. Bagaimana mungkin Indonesia dapat menjadi tempat bertumbuh dan berkembang untuk anak, apabila akses untuk tumbuh kembang dan perlindungan kepada anak tidak diperhatikan secara khusus. Belakangan kita juga mendengar adanya program pemerintah mengenai kota layak anak/ramah anak, yang menurut UNICEF (United Nations Children’s Fund) adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Namun program ini belum serentak dan belum terlihat jelas komitmen para pemimpin daerah untuk mengaplikasikan kota layak/ramah anak, dengan mengedepankan partisipasi anak, mendengarkan suara anak, dan menjadi tempat berlindung dan dihormatinya hak anak.

Mulailah Berlari                   

Ratifikasi Konvensi Hak-hak Anak dilakukan oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990, hal tersebut dilakukan karena pada saat itu belum ada mekanisme hukum yang jelas, sehingga Pemerintah menggunakan keputusan Presiden sebagai dasar hukum ratifikasi. Hadirnya UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak mendapat sorotan dari pemerhati hak anak, karena diratifikasinya konvensi hak-hak anak melalui Keputusan Presiden, maka protokol opsional konvensi hak-hak anak akan sulit diratifikasi, contohnya; protokol opsional konvensi hak-hak anak mengenai keterlibatan dalam konflik bersenjata, tentang penjualan anak, pornografi anak dan prostitusi anak.

Kemudian, UU No. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional menyatakan bahwa ratifikasi konvensi harus dengan undang-undang. Bila protokol-protokol opsional diratifikasi dengan undang-undang,  akan menyebabkan kejanggalan hukum. Seharusnya pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi hak anak dengan undang-undang, dan itu wajib dilaksanakan, sehingga dengan demikian keseriusan pemerintah terhadap pelaksanaan perlindungan anak di Indonesia dapat dilaksanakan.

Selain itu, koordinasi antar sektor sangat diperlukan, karena penanganan masalah anak tidak dapat dilakukan langsung dari pusat ke daerah, hal ini juga berkaitan dengan UU No.32 tahun 2002 tentang otonomi daerah, hal tersebut juga mengakibatkan koordinasi antar sektor dan penanganan masalah anak menjadi sedikit terhambat. Oleh sebab itu, pentingnya setiap daerah menerbitkan peraturan daerah yang berpihak kepada kepentingan anak, dan terus meningkatkan koordinasi antara pusat dan daerah dalam rangka pemenuhan hak anak, selain itu juga sangat penting dan sudah tiba waktunya kita mendengarkan suara dan keinginan anak untuk kemudian dijadikan sebuah kebijakan dan peraturan yang terkait dengan masa depan anak yang lebih baik.

Peran dari seluruh masyarakat dan pihak terkait sangat diperlukan dan harus dilakukan untuk bersama-sama menentukan sikap serta menyatukan persepsi untuk dihasilkannya sebuah keputusan dan peraturan yang terbaik bagi anak. Hal ini lah yang perlu terus ditingkatkan dan perlu diawasi, agar Indonesia dapat menjadi tempat yang ramah untuk anak-anak, semoga hari depan indah bagi anak Indonesia.

Selamat Hari Anak Nasional!

Maykel Ifan Situmorang

Jul 24, 2012

아이쿠야의 신나는 봉사기 - '대망의 어린이날!'

안녕하세요~ 오랜만에 뵙는 아이쿠야 입니다.. 어린이날 덕분에 워낙 눈코뜰새 없이 바빠 블로그를 조금 소홀히 하였네요 ^^.. 오늘은 대망의 어린이날 대축제를 마친 뒤 딱 이틀이 지난.. 월요일입니다. 준비기간이 그리 순탄치(?)는 않았던 (장소 관계자의 실수로 장소를 중간에 바꾼 점 ㅠㅠ등등..) 행사라 준비기간 내내 마음 졸이고, 속 끓였던 애증의 어린이날 대축제!

드디어 안 올 것 만 같았던 14일이 왔고, 행사가 개최되었습니다!




이번 행사에는 총 400명 이상의 후원아동과ㅡ  123명의 인니,한국 자원봉사자들이 함께 해주었습니다. 또한 인도네시아 정부 및 경찰청에서 중요인사가 참여하여 그 자리를 더욱 빛내주셨습니다.



또한, 봉제기업인 한세실업에서 총 3000장의 어린이날 기념티셔츠를 제작하고 후원하여 참여자 모두가 아이들을 응원하는 티셔츠를 입고 행사를 진행할 수 있게 되었습니다. 이 티셔츠는 자카르타 뿐만 아니라, 수까부미, 보고르 그리고 수마트라 섬의 후원 아동들에게도 배포할 예정입니다.  행사를 더욱 아름답고 풍성하게 만들어주신 한세실업의 사회공헌에 감사의 말씀을 올립니다 ^0^

이렇듯 많은 분들의 도움에 힘입어 개최된 어린이날 행사! 그 곳에선 무엇을 했을까요?


이번 어린이날 행사는 "Dari Anak, Oleh Anak, Untuk Anak" 이라는 주제와 함께 개최되었습니다. 그에 걸맞게 공연도 직접 아아들이 연습을 하여 준비했고,





Pemilu Anak (아동 선거)역시 아동선거위원회가 조직되어 아이들이 주관하였습니다. 이번 어린이날 축제는 아이들이 직접 준비한 부분이 많았기에 행사 그 자체로 아이들이 자신의 역량을 강화 할 수 있는 좋은 계기였습니다.


 첫 번째라 부족한 면도 있었지만, 처음부터 잘하면 재미없잖아요 ^^


어쨌든, 인도네시아 어린이들이 어떤 사회적 이슈를 가장 선호하고, 또 심각한 문제라고 생각하는지에 대해서 어린이들의 목소리를 직접 들어본 인도네시아에서의 첫번째 시도 입니다.

가장 선호하는 사회적 이슈는 바로 무상교육이고, 가장 기피하고 심각한 문제라고 생각하는 이슈는 성매매와 마약문제라는 결과를 얻을 수 있었습니다.

이러한 사회적 이슈를 공론화하고 해결책을 도모하기 위해 대통령직속기구 아동보호위원회와 인도네시아 최고대학인 인도네시아 대학의 사회복지학과 교수님이 대담에 참여하였습니다. (Universitas Indonesia)

아이들이 신나게 즐기고, 또 기획하기도 하고, 아이들을 위한 이야기들을 나눈  14일의 이벤트가 끝났습니다. 


그리고 약 일주일 뒤,
드디어 7월 23일! 어린이날 당일이 다가왔습니다.
14일의 이벤트로는 부족했던 ㅋㅋ 굿네이버스는 또다른 시도를 했는데요, 그건 바로...!

위풍도 당당한

1인 캠페인 !


인도네시아 자카르타에서 내노라하는 백화점이 즐비한 번화가 거리 한가운데에서 판넬하나만 들고 홀홀단신 ㅠ.ㅠ ㅋㅋ



땡볕에 풀썩 쓰러질 수도 있으니 30분 씩 돌아가면서 ^^


지나가는 사람들이 한 번씩 쳐다봐주는 것만으로도 뿌듯함이 ㅎㅎ 솔솔.. 어떤 아저씨께서는 엄지손가락을 치켜주시며 응원도 해주시고요 ^^

그러던 와중, 반가운 손님이 저희를 찾아오셨네요. 바로 뉴욕타임즈 헤럴드 트리뷴의 인도네시아 판 '자카르타 포스트' 의 기자님인데요 ^^


덕분에 24일자 신문에 두둥 ~!! 어린이날의 의미와 어린이날이 언제인지에 대해서 대대적인 홍보가 되었을 것이라 생각합니다 ^^ 그나저나 사진의 주인공은... 시집 다가셨네 ~ ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ(웹캠으로 급하게 찍은거라서리 ^^; 스캔본은 난중에 업데이트 하겠습니다..)

여러방면을 여러가지 방법을 통해 어린이날에 대해 홍보하고자 한 장장 4개월의 노력이 이렇듯 마감되었습니다. 어린이날 이벤트를 통해 어린이들이 즐거운 시간을 보내고, 1인 캠페인을 통해 많은 대중들이 어린이날의 존재와 의미에 대해서 생각해볼 수 있는 계기를 마련했다고 생각합니다 ^^

어린이날은, 다 크고나면 그저 그런 공휴일로 생각하기 쉬워지는 것 같습니다. 하지만 어린이날이 있다는 것 만으로 어린이를 존중해야할 존재로 인식한다는 것은 이 날의 가치가 상당히 높다는 것을 의미합니다.

인도네시아의 어린이날은 존재합니다. 하지만 그 존재를 모르는 사람이 많습니다. 7월 23일이 국가공휴일로 지정되어 을 많은 사람들이 어린이날을 인정하고, 어린이들을 사랑하자는 인식을 다같이 공유하는 날이 왔으면 좋겠습니다.

감사합니다 ~!!